Malem2, gak bisa tidur malah ngeliatin dia tidur. Tiba2 kepingin aja gitu nulis namanya disini. Sebenernya sih, namanya gak perlu ditulis juga sudah tertancap rapi dalam setiap doa. Dulu, 25 Juni 2015 kami, orangtuanya, sepakat memberi nama Tasaka Sabian Ramadhan. Tasaka artinya cerdas dan cemerlang. Sabian artinya penghuni surga. Ramadhan artinya dia lahir di bulan Ramadhan. Harapan kami tinggi sekali padanya. Seiring berjalannya waktu, doa2 kami tidak hanya tentang arti namanya, masih berjejer doa lain yg selalu kami panjatkan untuknya.
Sekarang dia sudah menginjak 2 tahun. Waktu yg singkat sekali kalau ingat gimana dulu saya berjuang antara keyakinan dan kepasrahan buat melahirkan. Tasaka sekarang makin pintar. Dia dengan gampangnya menirukan apa yg orang lain ucapkan. Bahkan dia sudah bisa ngomong Rrrrr tanpa cadel sedikitpun. Tasaka tumbuh jadi anak yg ganteng. Bulu matanya lentik, sering bikin iri orang lain. Tasaka juga cepat sekali menangkap hal baru. Dia sudah hafal beberapa lagu anak2, misalnya cicak2 di dinding, naik kereta api, burung kakatua, bintang kecil, pergi ke Makkah, bahkan twinkle2 little star. Oke, hafal disini bukan berarti dia sudah jelas sekali bicara, hanya saja dia akan sangat mudah meneruskan teks ketika kita ingatkan.
Tasaka dengan segala tingkah polahnya yang kadang bahkan masih sering susah sekali makan. Ditambah lagi setelah lewat 2 tahun ini dia masih susah untuk disapih. Pernah saya benar2 tega menolak saat dia nangis menjerit2, akhirnya hati saya luluh. Gak tega sekali ngelihat wajahnya yg polos dan kayaknya haus banget dan hanya asi yg bisa nyegerin tenggorokannya.
Tasaka sudah semakin hebat. Tetap dan selalu hebat ya nak, semoga tulisan ini kelak bisa jadi pengingat gimana lucu, ganteng, pintar dan hebatnya kamu saat masih kecil.
Oh iya satu lagi, Tasaka senang sekali kalau pergi ke masjid dan diajak solat. Dia bahkan ketika pergi tiap ngelihat masjid selalu nunjuk2 sambil bilang "jid,jid,lat" (masjid, masjid solat). Tasaka bahagia dan sangat girang lho kalau diajak ke masjid. Semoga tetap istiqomah sampai maut ya nak.
Mama loves you...
Senin, 17 Juli 2017
Rabu, 08 Maret 2017
Rumah Dijual di Barat Surabaya
Bismillahirrohmanirrohiim.. dijual rumah di Swan Menganti Park Blok F28, Menganti, Gresik, Jawa Timur
Lt. 105m2, Lb. Sekitar 50m2, 3 kamar tidur, 1 kamar mandi. Masih terikat KPR dengan Bank (sistem jual beli saya jelaskan bagi yg berminat). Bonus AC, Kulkas, mesin cuci dan bufet kayu.
Harga 565 juta, nego. Terbuka nego sampai deal. Butuh segera untuk bisa terjual. Bagi yg mau tanya2 atau berminat bisa langsung hubungi 081233263747 atau 08113155234. Terimakasih
Mulutmu, Harimaumu
Istilah ini memang bener2 harus diresapi dan dijaga. Ternyata apapun yg kita katakan pada orang lain itu adalah senjata yg suatu saat bisa kembali menyerang kita.
Mungkin bukan mulutmu harimaumu, bisa juga diganti mulutmu, bumerangmu. Apa yg sudah kita ucapkan, memang tidak selamanya akan berbalik dengan kondisi yg sama. Ambil saja contoh ketika kita mengucapkan terimakasih pada orang yg telah menolong kita dengan tulus, saat itu dia merasa senang karena kita menghargainya. Suatu saat bisa jadi bukan kita yg mendapat ucapan terimakasih dari orang yg kita tolong, tapi kita justru dapat bantuan lain dari orang yg lain lagi. Pun, sebaliknya.
Sangat penting menjaga ucapan. Jika kita sebagai pimpinan, ada baiknya benar2 menjaga perasaan bawahan. Setiap orang pernah lho melakukan kesalahan. Setiap orang berhak kok dimaafkan. Saat mereka salah pun, mereka harus mau menerima kalau dimarahin. Tapi justru disini peran seorang pemimpin diuji. Bagaimana dia memarahi bawahannya dan bagaimana dia menyikapi kesalahan bawahannya.
Harus dengan marah2 dan mengucapkan banyak kata tidak pantas? Harus dengan marah2 teriak2 seakan murka dan bawahannya adalah orang paling bersalah di dunia? Harus juga memarahi di depan orang banyak?
Sebagai cerminan, saya juga bukan seorang pemimpin dan saya sama sekali tidak punya harapan untuk bisa jadi pemimpin (jadi istri pemimpin aja cukup lah ya, ekekkekeke). Hari ini saya banyak belajar, bagaimanapun status sosial seseorang ternyata bisa sangat berdampak pada tingkah lakunya.
Bahkan seseorang dijadikan pemimpin pun masih harus terus belajar dan terus berbenah. Bukan pemimpin itu selalu benar dan selalu tahu segalanya. Bukan. Seorang pemimpin yang baik bukan seperti itu.
Mari kita ubah perilaku dan pemikiran kita. Tidak harus menunggu jadi pemimpin untuk berubah, tapi ketika kita sudah menjadi pimpinan, jangan pernah lupa hari kemarin. Itu saja.
Semoga kelak saya bisa segera lepas dan terhindar dari orang2 seperti itu. Atau mungkin tidak akan pernah bisa? Setidaknya semoga saya dikuatkan dan tetap diberikan jalan terbaik jika bertemu dengan mereka. Aamiin.
-tyas, anak buah yg hanya remah2-
Mungkin bukan mulutmu harimaumu, bisa juga diganti mulutmu, bumerangmu. Apa yg sudah kita ucapkan, memang tidak selamanya akan berbalik dengan kondisi yg sama. Ambil saja contoh ketika kita mengucapkan terimakasih pada orang yg telah menolong kita dengan tulus, saat itu dia merasa senang karena kita menghargainya. Suatu saat bisa jadi bukan kita yg mendapat ucapan terimakasih dari orang yg kita tolong, tapi kita justru dapat bantuan lain dari orang yg lain lagi. Pun, sebaliknya.
Sangat penting menjaga ucapan. Jika kita sebagai pimpinan, ada baiknya benar2 menjaga perasaan bawahan. Setiap orang pernah lho melakukan kesalahan. Setiap orang berhak kok dimaafkan. Saat mereka salah pun, mereka harus mau menerima kalau dimarahin. Tapi justru disini peran seorang pemimpin diuji. Bagaimana dia memarahi bawahannya dan bagaimana dia menyikapi kesalahan bawahannya.
Harus dengan marah2 dan mengucapkan banyak kata tidak pantas? Harus dengan marah2 teriak2 seakan murka dan bawahannya adalah orang paling bersalah di dunia? Harus juga memarahi di depan orang banyak?
Sebagai cerminan, saya juga bukan seorang pemimpin dan saya sama sekali tidak punya harapan untuk bisa jadi pemimpin (jadi istri pemimpin aja cukup lah ya, ekekkekeke). Hari ini saya banyak belajar, bagaimanapun status sosial seseorang ternyata bisa sangat berdampak pada tingkah lakunya.
Bahkan seseorang dijadikan pemimpin pun masih harus terus belajar dan terus berbenah. Bukan pemimpin itu selalu benar dan selalu tahu segalanya. Bukan. Seorang pemimpin yang baik bukan seperti itu.
Mari kita ubah perilaku dan pemikiran kita. Tidak harus menunggu jadi pemimpin untuk berubah, tapi ketika kita sudah menjadi pimpinan, jangan pernah lupa hari kemarin. Itu saja.
Semoga kelak saya bisa segera lepas dan terhindar dari orang2 seperti itu. Atau mungkin tidak akan pernah bisa? Setidaknya semoga saya dikuatkan dan tetap diberikan jalan terbaik jika bertemu dengan mereka. Aamiin.
-tyas, anak buah yg hanya remah2-
Selasa, 21 Februari 2017
Bukan mauku
Sebenarnya bukan keinginanku untuk mengerjakannya. Aku pun dapat kesempatan dari orang lain yang sudah lama mengenalnya dan selanjutnya diberikan padaku.
Memang, dia ini sekarang sudah jadi milikmu, teman. Tapi orang lain yang mengenalkannya padaku sama sekali tidak tahu kalau dia milikmu.
Kalau sekarang aku mendapat kesempatan berkenalan dengannya dengan jalan yang berbeda, kenapa harus kamu halang2i teman? Aku sama sekali tidak akan mengambil yang sudah milikmu. Aku toh hanya mengerjakan lainnya yang saat ini belum kamu miliki. Ada yang salah?
Aku tahu statusmu jauh diatasku. Kamu kaya, kamu berada dan kamu terpandang. Tapi tolong, jangan semena-mena sama orang lain. Tolong juga, jangan selalu memaksakan kehendakmu. Banyak orang lain di luar sana, yang mungkin bukan aku saja yang pernah atau sering tersakiti karena sikapmu.
Tetap ingat saja, Allah itu Maha Adil. Allah sama sekali tidak melihat derajat seseorang dari hartanya. Kamu tidak takut kalau aku atau orang2 lain di luar sana mengeluh padaNya dan meminta hak kami? Jangan semena-mena ya, tolong. Bersikap baik sajalah pada siapapun.
-aku yang sama sekali gak ada niat menyusahkanmu karena itu kelolaanmu-
Memang, dia ini sekarang sudah jadi milikmu, teman. Tapi orang lain yang mengenalkannya padaku sama sekali tidak tahu kalau dia milikmu.
Kalau sekarang aku mendapat kesempatan berkenalan dengannya dengan jalan yang berbeda, kenapa harus kamu halang2i teman? Aku sama sekali tidak akan mengambil yang sudah milikmu. Aku toh hanya mengerjakan lainnya yang saat ini belum kamu miliki. Ada yang salah?
Aku tahu statusmu jauh diatasku. Kamu kaya, kamu berada dan kamu terpandang. Tapi tolong, jangan semena-mena sama orang lain. Tolong juga, jangan selalu memaksakan kehendakmu. Banyak orang lain di luar sana, yang mungkin bukan aku saja yang pernah atau sering tersakiti karena sikapmu.
Tetap ingat saja, Allah itu Maha Adil. Allah sama sekali tidak melihat derajat seseorang dari hartanya. Kamu tidak takut kalau aku atau orang2 lain di luar sana mengeluh padaNya dan meminta hak kami? Jangan semena-mena ya, tolong. Bersikap baik sajalah pada siapapun.
-aku yang sama sekali gak ada niat menyusahkanmu karena itu kelolaanmu-
Rabu, 01 Februari 2017
Februari
Sebenernya gak ada yang special dengan Februari. Gak ada satupun anggota keluarga yang ulang tahun di Februari. Gak ada momen khusus juga di Februari.
Tapi ada satu nasehat yang mendadak jadi sangat aku suka. Ternyata emang bener belajar itu bisa dari mana aja, dari siapa aja dan kapan aja. Oke, jadi tadi waktu di kantor ada yang bilang
"Walaupun kamu udah berusaha maksimal, kamu ngerasa udah mencapai sesuatu tapi pada akhirnya tetep tak satupun yang melihatmu, tenang saja. Cukup sediakan waktu untuk dirimu sendiri, lakukan apa yang kamu suka walaupun cuma sehari. Kasih penghargaan untuk dirimu sendiri. Bahagiakan dirimu sendiri atas pencapaianmu saat itu. Udah gitu aja."
Semudah dan sesimpel itu pemikirannya. Mungkin ini yang terkadang sering aku lewatkan. Aku tahu, aku bukan sosok orang yang berprestasi. Aku bukan sosok orang yang didambakan posisinya oleh orang lain. Aku bukan juga sosok orang yang menonjol dalam hal apapun.
Kalau boleh dibilang, hidupku sesungguhnya datar. Aku gak pernah jatuh, tapi jarang pula di puncak. Cukup dapet 3 besar ranking di kelas, atau sampai 10 besar sudah sangat melegakan buatku. Bisa sekolah di sekolah negeri yang notabene sekolahnya juga bukan sekolah yang jelek tapi juga bukan yang paling bagus di kota.
Prestasi? Kalau mau tanya soal juara, bisa dibilang aku hampir gak pernah juara. Tapi, aku juga sama sekali gak pernah di bawah. Efeknya? Aku jarang sekali diakui. Jarang sekali mendapat penghargaan dan jarang sekali dikenal.
Bukan sebenernya pengen dikenal, tapi sesekali mendapat penghargaan atas sebuah keberhasilan kecil itu sebenernya menyenangkan lho.
Eh, aku pernah mendapatkannya dari orang tua. Kala itu aku dibelikan sepeda pancal baru karena berhasil masuk SMP Negeri.
Tapi ketika aku berhasil menyumbat air dari pipa yang bocor karena ulahku juga, aku gak mendapat penghargaan.
Sekiranya mulai sekarang aku akan mencoba menghargai diriku sendiri. Bisa dimulai dengan creambath di salon saat berhasil ngejual baju anak 3 biji sekaligus kan? 😝
Tapi ada satu nasehat yang mendadak jadi sangat aku suka. Ternyata emang bener belajar itu bisa dari mana aja, dari siapa aja dan kapan aja. Oke, jadi tadi waktu di kantor ada yang bilang
"Walaupun kamu udah berusaha maksimal, kamu ngerasa udah mencapai sesuatu tapi pada akhirnya tetep tak satupun yang melihatmu, tenang saja. Cukup sediakan waktu untuk dirimu sendiri, lakukan apa yang kamu suka walaupun cuma sehari. Kasih penghargaan untuk dirimu sendiri. Bahagiakan dirimu sendiri atas pencapaianmu saat itu. Udah gitu aja."
Semudah dan sesimpel itu pemikirannya. Mungkin ini yang terkadang sering aku lewatkan. Aku tahu, aku bukan sosok orang yang berprestasi. Aku bukan sosok orang yang didambakan posisinya oleh orang lain. Aku bukan juga sosok orang yang menonjol dalam hal apapun.
Kalau boleh dibilang, hidupku sesungguhnya datar. Aku gak pernah jatuh, tapi jarang pula di puncak. Cukup dapet 3 besar ranking di kelas, atau sampai 10 besar sudah sangat melegakan buatku. Bisa sekolah di sekolah negeri yang notabene sekolahnya juga bukan sekolah yang jelek tapi juga bukan yang paling bagus di kota.
Prestasi? Kalau mau tanya soal juara, bisa dibilang aku hampir gak pernah juara. Tapi, aku juga sama sekali gak pernah di bawah. Efeknya? Aku jarang sekali diakui. Jarang sekali mendapat penghargaan dan jarang sekali dikenal.
Bukan sebenernya pengen dikenal, tapi sesekali mendapat penghargaan atas sebuah keberhasilan kecil itu sebenernya menyenangkan lho.
Eh, aku pernah mendapatkannya dari orang tua. Kala itu aku dibelikan sepeda pancal baru karena berhasil masuk SMP Negeri.
Tapi ketika aku berhasil menyumbat air dari pipa yang bocor karena ulahku juga, aku gak mendapat penghargaan.
Sekiranya mulai sekarang aku akan mencoba menghargai diriku sendiri. Bisa dimulai dengan creambath di salon saat berhasil ngejual baju anak 3 biji sekaligus kan? 😝
Kamis, 03 November 2016
Kuat untuk tasaka
Kali ini aku menjerit. Menangis menjerit sejadi2nya di depannya. Iya di depan wajah mungilnya.
Sambil terus menangis menatapnya yang justru tertawa girang melihatku, bukannya mereda tangisku semakin pecah. Kujeritkan isi hatiku didepannya. Kubuka kedua tanganku dan kuulurkan padanya sambil berkata, "sini nak peluk mama." Dengan girangnya dia berlari kecil ke pelukanku. Kupeluk erat laki2 kecil tak berdosa itu. Kujeritkan semua sejadi2nya.
Nak, maafkan mama. Ternyata berat rasanya memikirkan siapa yang harus mengasuhmu menggantikan mama sementara. Di saat pengasuh pulang tiba2, semua orang panik mencari ganti. Uti, Akung, Ema, Engkong bahkan Ayah juga panik.
Kamu tahu nak bagaimana perasaan mama saat ini? Mama tersakiti nak. Dimana mama? Kemana mama? Kenapa harus orang lain yang menjagamu padahal mama ada? Kenapa nak? kenapa?
Sejak seminggu lalu tasaka mendapat pengasuh baru. Karakternya yang unik yang gak mudah mau sama orang, membuatku memutuskan untuk ambil cuti 3 hari sambil menjaganya dan sesekali coba meninggalkannya dengan pengasuh baru. Selalu menangis, menjerit sejadi2nya saat ada pengasuh itu didekatnya.
Sekarang, saat dia tiba2 pulang karena menyerah menghadapi tasaka, aku lah orang pertama yang paling bersalah di sini. Seharusnya tak perlu ada pengasuh untuk anakku. Seharusnya aku yang selalu disampingnya. Aku yang melihat perkembangannya setiap detik, menit, jam dan begitu seterusnya. Aku. Aku. Orang pertama yang paling bertanggungjawab jika terjadi sesuatu padanya.
Tapi apa dayaku. Meninggalkan pekerjaan masih sangat sulit bagi kami. Kewajiban kami yang begitu tinggi membuat kami tidak bisa berbuat banyak saat ini. Sampai kapan? Sampai kapan?
Tasaka, maafkan mama. Maafkan mama dengan segala kesalahan dan kelemahan mama.
Tasaka, kelak jadi anak baik ya nak. Jadilah yang terbaik sayang.
Mama sayang Tasaka, dengan sepenuh hati dan jiwa raga mama. Untuk Tasaka, as always.
-mama-
Sambil terus menangis menatapnya yang justru tertawa girang melihatku, bukannya mereda tangisku semakin pecah. Kujeritkan isi hatiku didepannya. Kubuka kedua tanganku dan kuulurkan padanya sambil berkata, "sini nak peluk mama." Dengan girangnya dia berlari kecil ke pelukanku. Kupeluk erat laki2 kecil tak berdosa itu. Kujeritkan semua sejadi2nya.
Nak, maafkan mama. Ternyata berat rasanya memikirkan siapa yang harus mengasuhmu menggantikan mama sementara. Di saat pengasuh pulang tiba2, semua orang panik mencari ganti. Uti, Akung, Ema, Engkong bahkan Ayah juga panik.
Kamu tahu nak bagaimana perasaan mama saat ini? Mama tersakiti nak. Dimana mama? Kemana mama? Kenapa harus orang lain yang menjagamu padahal mama ada? Kenapa nak? kenapa?
Sejak seminggu lalu tasaka mendapat pengasuh baru. Karakternya yang unik yang gak mudah mau sama orang, membuatku memutuskan untuk ambil cuti 3 hari sambil menjaganya dan sesekali coba meninggalkannya dengan pengasuh baru. Selalu menangis, menjerit sejadi2nya saat ada pengasuh itu didekatnya.
Sekarang, saat dia tiba2 pulang karena menyerah menghadapi tasaka, aku lah orang pertama yang paling bersalah di sini. Seharusnya tak perlu ada pengasuh untuk anakku. Seharusnya aku yang selalu disampingnya. Aku yang melihat perkembangannya setiap detik, menit, jam dan begitu seterusnya. Aku. Aku. Orang pertama yang paling bertanggungjawab jika terjadi sesuatu padanya.
Tapi apa dayaku. Meninggalkan pekerjaan masih sangat sulit bagi kami. Kewajiban kami yang begitu tinggi membuat kami tidak bisa berbuat banyak saat ini. Sampai kapan? Sampai kapan?
Tasaka, maafkan mama. Maafkan mama dengan segala kesalahan dan kelemahan mama.
Tasaka, kelak jadi anak baik ya nak. Jadilah yang terbaik sayang.
Mama sayang Tasaka, dengan sepenuh hati dan jiwa raga mama. Untuk Tasaka, as always.
-mama-
Kamis, 27 Oktober 2016
Sepeda orang tua
Seperti belajar bisa nyetir sepeda
Dibeliin sepeda baru sama orang tua. Semangat banget belajarnya. Tiap sore sepulang sekolah buru2 main sepeda
Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Gitu terus setiap hari. Memar, lecet, luka sampai sepeda rusak pun jadilah.
Masih belum bisa juga? Padahal luka makin banyak dan kerusakan sepeda makin menjadi
Orangtua marah, dibeliin sepeda mahal2, belajar gak bisa2.
Sedih? Iya! Kecewa? Iya! Nyerah? Hampir!
Masih terus belajar dan belajar walaupun orang tua setiap hari marah2. Sambil belajar ada perasaan nyesek karena dimarahin. Pengen banget bisa segera bisa nyetir sepeda, tapiiii..kok dimarah2in terus sii? Sudah usaha lho
Keadaannya pasti beda kalau jadi gini:
Pas lagi belajar nyetir tiba2 orangtua dateng, dampingi dan tersenyum
Mereka meyakinkan kalau memang prosesnya harus begitu lakukan, belajar aja terus jangan nyerah.
Apa jadinya kalau semua orangtua hanya melihat hasil? Bagaimanapun, usaha dan proses itu penting. Hargai saja tiap proses yg ada dan yg dijalani anak2mu. Hasil mengecewakan? Terima saja. Yakin, anakmu pasti akan memberikan kejutan lain. Karna setiap anak di dunia ini unik!
Siapa tahu kelak dia jadi pelukis terkenal? atau malah jadi pemain bola?
-teruntuk orangtua yang (mungkin) belum tersadar-
Dibeliin sepeda baru sama orang tua. Semangat banget belajarnya. Tiap sore sepulang sekolah buru2 main sepeda
Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Gitu terus setiap hari. Memar, lecet, luka sampai sepeda rusak pun jadilah.
Masih belum bisa juga? Padahal luka makin banyak dan kerusakan sepeda makin menjadi
Orangtua marah, dibeliin sepeda mahal2, belajar gak bisa2.
Sedih? Iya! Kecewa? Iya! Nyerah? Hampir!
Masih terus belajar dan belajar walaupun orang tua setiap hari marah2. Sambil belajar ada perasaan nyesek karena dimarahin. Pengen banget bisa segera bisa nyetir sepeda, tapiiii..kok dimarah2in terus sii? Sudah usaha lho
Keadaannya pasti beda kalau jadi gini:
Pas lagi belajar nyetir tiba2 orangtua dateng, dampingi dan tersenyum
Mereka meyakinkan kalau memang prosesnya harus begitu lakukan, belajar aja terus jangan nyerah.
Apa jadinya kalau semua orangtua hanya melihat hasil? Bagaimanapun, usaha dan proses itu penting. Hargai saja tiap proses yg ada dan yg dijalani anak2mu. Hasil mengecewakan? Terima saja. Yakin, anakmu pasti akan memberikan kejutan lain. Karna setiap anak di dunia ini unik!
Siapa tahu kelak dia jadi pelukis terkenal? atau malah jadi pemain bola?
-teruntuk orangtua yang (mungkin) belum tersadar-
Selasa, 11 Oktober 2016
Cerita hujan
Oktober di malam hari. Hujan sedang rindu dan selalu datang menyapa. Setiap hari dia datang bergandengan tangan dengan langit gelap layaknya malam hari.
Hujan. Bukan hanya tentang tetesan air yang jatuh. Bukan juga tentang derasnya aliran air yang jatuh. Hujan. Membuat siapapun dingin karnanya.
Seperti malam ini. Aku di rumah duduk menulis. Tertidur sebelah kananku dua lelaki hebat dengan posisi miring ke kiri bersama-sama, mata tertutup rapat dan mungkin sedang bermimpi indah. Suami dan anakku. Ya, merekalah yang menjadi penopang semangatku selama ini. Tentunya tetap ada doa orangtua kami di sana.
Biasanya aku pun segera menyusul mereka untuk tidur. Tapi tidak kali ini, mataku masih terjaga. Terang.
Ada sebuah magnet kuat yang membuatku tetap terjaga. Akhir-akhir ini tidurku kurang nyenyak.
Memang, setiap manusia akan selalu memiliki masalahnya. Tak terkecuali aku. Masalah memang bukan sesuatu yang menyeramkan, hanya dibutuhkan segenggam semangat untuk segera menyelesaikan.
Malam ini, tulisan ini aku buat ketika secuil masalah sedang kurasakan. Bukan tentang keluarga. Mereka adalah segenggam semangatku tadi yang kujaga.
Lalu apa?
Bisa jadi tentang pekerjaan yang berimbas. Ya, pekerjaanku memang menuntutku untuk pulang malam. Entah karena pending pekerjaan atau sekadar rasa sungkan pada pimpinan. Satu yang kurasakan, ketika aku memilih pulang lebih awal itu menjadi salah satu sumber buruknya aku dimata mereka. Siapapun itu.
Imbasnya? Bisa jadi salah satunya karena itu. Pulang kerja larut malam, tentu sesampainya di rumah aku lelah. Istirahat adalah cara ampuh menghilangkannya sambil melihat si kecil ditemani bermain oleh mbak.
Benar saja, mbak akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bersama kami. Membantu pekerjaan rumahku yang selama ini kupercayakan padanya, menjaga si kecil!
Jangan pernah menyalahkan ibu bekerja yang harus rela menitipkan anaknya pada mbak. Jangan pernah pula menganggap pekerjaan rumah yang dikerjakan ibu yang tidak bekerja itu mudah.
Akan selalu ada tantangan untuk setiap pilihan. Apapun itu, hargailah pilihannya.
Setelah ini, aku pun masih harus tetap melanjutkan pekerjaanku, mencari mbak baru, mungkin aku akan tetap pulang malam dan mungkin mbak baru harus sangat menyesuaikan. Jika tidak, ya masih seperti ini polanya. Aku bekerja - mbak di rumah - aku pulang malam - mbak lama lama gak betah - aku cari pengganti - aku bekerja dan begitu seterusnya.
Entah sampai kapan. Sampai kapan aku bisa dengan sangat yakin dan bangga menjadi pendidik utama untuk anak-anakku. Menjadi ibu rumah tangga bersama mereka. Entah.
Langganan:
Postingan (Atom)



